Tegal – Stop kekerasan perempuan dan anak kembali menjadi sorotan setelah Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, bertemu puluhan emak-emak di Pendopo Ki Gede Sebayu Balai Kota Tegal pada Jumat (5/12/2025). Pertemuan itu berlangsung hangat dan penuh dialog. Melalui kegiatan tersebut, Dedy Yon menegaskan bahwa perempuan dan anak berhak hidup dengan aman, tanpa ancaman maupun kekerasan.

Dalam sesi penyampaian materi, Dedy Yon menilai bahwa kekerasan berbasis gender masih menjadi pelanggaran hak asasi manusia yang sering muncul di masyarakat. Ia menyebut dampak psikologis, sosial, dan ekonomi dari kasus kekerasan dapat berlangsung panjang. Karena itu, ia meminta masyarakat aktif mencegah kekerasan, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Pemkab Tegal: Kisah Agus Diangkat ASN Jelang Pensiun
Ia juga menyoroti meningkatnya risiko kekerasan di era digital. Kini, perempuan dan anak menghadapi perundungan maya, penyebaran konten tanpa izin, dan berbagai bentuk kejahatan siber. Karena itu, ia menilai edukasi digital penting untuk memperkuat perlindungan diri.
Menurut Dedy Yon, Pemerintah Kota Tegal terus memperkuat komitmen untuk menjadikan kota lebih aman dan responsif gender. Pemerintah menjalankan berbagai kebijakan, program, dan layanan untuk melindungi masyarakat. Selain itu, pemerintah menggandeng keluarga, akademisi, media, organisasi perempuan, sektor swasta, dan lembaga layanan seperti UPTD PPA agar perlindungan terhadap kelompok rentan semakin solid.
Sementara itu, Kepala DPPKBP2PA Kota Tegal, Rofiqoh, menjelaskan bahwa pelatihan gender bertujuan meningkatkan kesadaran publik. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini membantu mengubah stereotip dan membekali peserta dengan kemampuan mendeteksi serta menangani kasus kekerasan berbasis gender. Dengan pemahaman itu, setiap warga dapat berperan menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak.
Baca Juga: Kota Tegal Raih Sutami Award 2025 sebagai Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur
Melalui seluruh rangkaian kegiatan ini, pesan stop kekerasan perempuan dan anak semakin kuat sebagai gerakan bersama yang harus terus berjalan secara konsisten.




